Oleh: dr. Raehanul Bahraen
“Ustadz bagaimana cara kita menghadapi para akhwat di kampus ustadz, kalo praktikum ama kuliah kadang ketemu, kalau diskusi tutorial apalagi? Kita ga lihat mukanya ustadz? Atau ngomong sambil lihat bawah terus? Atau nengok ke atas terus? Atau bicaranya posisi bersampingan?
“ustadz di kampus banyak cewek-cewek gaul dan penampilannya agak menggoda, awalnya sih ga tertarik karena yang kayak gitu ga cocok jadi istri, mana mau saya dapet istri cantiknya dinikmati orang banyak, tapi lama-lama lihat dia kok kayaknya orangnya enak diajak ngobrol ya, kadang agak keibuan juga? Kayak kalo jadi istri bisa dibina deh, gimana ya ustadz, cara menghadapinya?
“ustadzah, gimana nih, ada cowok temen kampus, temen penelitian, orangnya agak awam tentang agama, baik sih, bertanggung jawabnya dengan penelitiannya, dia juga anak band lho. Awalnya biasa aja sih sama dia, tapi kan sering ketemu bahas penelitian, awalnya ngobrol biasa, eh lama-lama dianya kadang curhat dan tanya-tanya pendapat saya, kadang saya cuekin tapi ga enak juga ditanyain pendapat ga dijawab, akhirnya dia makin sering sms. Awalnya saya jawab seadanya aja smsnya, kadang ga saya jawab. Alhamdulillah sudah dapet nasehat bahwa ini nanti bisa fitnah, akhirnya saya bilang ke cowok itu supaya jangan sms dan tanya pendapat saya, saya jelaskan baik-baik supaya ia jangan sms dan curhat dengan saya, cukup sms masalah penelitian aja. Sejak itu dia ga sms lagi, tapi ustadzah, kok malah saya yang agak galau ya, rasanya agak sepi ga ada sms dari dia lagi, kok saya mulai sering mikirin dia ya? Berandai-andai seandainya dia ga awam, udah “ngaji”, apakah saya mulai jatuh cinta ya ustadzah? Beginikah rasanya kena khamer asmara? Gimana cara menghadapinya ustadzah”
“ustadz tahu ga, di facebook ada istilah “penjahat ta’aruf” ama “ahlun nadzor”, itu tu ikhwan gadungan yang sering goda akhwat lewat inbox facebook. Ikhwan gadungan yang jadi “mendadak usatdz” karena sering udpate status agama dan nasehat, sering buat “note copas ”, tanpa cantumkan sumber, klo kita blok tulisannya trus, liat di google ternyata tulisan orang lain. Nah yang kayak gini sering cari temen akhwat, ikut komen, trus inbox dengan kata-kata halus dan memikat inbox akhwat ajak ta’aruf trus minta tukeran foto, kalo jelek menurut dia, ya sudah ditinggalin, makanya disebut “ahlun nadzor “ustadz, karena udah banyak yang akhwat yang digitukan”
“akhi, apa salahnya engkau hapus semua frendlist akhwat di akunmu? Kalau memang kamu ga kuat iman ya jangan! Apalagi masih Jomblo, ga ada yang jagain dan awasi.”
“ukhti, jangan sekali-kali menerima pertemanan sama ikhwan, nanti terjerumus lho, mulai ada ikhwan gadungan di dunia maya, dunia maya sekarang lebih berat dari dunia nyata karena lebih tersembunyi dan hanya tiga yang tahu hubungan gelap itu, si ikhwan, si akhwat dan Allah.”
“idih, amit-amit tu akhwat, suami orang sering digangguin lewat facebook, ya kalo mau, tantangin tu ikhwan, berani memadu ga? Jangan maen belakang, kasihan istrinya khan”
“Subhanallah, ada istri kecanduan internet sama facebook, suaminya kerja mencari rezeki seharian, eh eh dia malah asyik facebookan ria ama laki-laki lain, dia senang banget ama pujian dan kata-kata manis laki-laki itu, curhat-curhatan. Memang sih suaminya sibuk, tapi kan bisa dikomunikasikan.”
Akibat dari interaksi laki-laki dan wanita yang sering bercampur-baur
Demikianlah sekelumit beberapa kasus yang mewakili kisah di dunia nyata dan di dunia maya, sebagai buah dari hasil interaksi yang tidak terbatas antara laki-laki dan wanita. Di tempat kita belum sepenuhnya terjadi pemisahan yang ideal interaksi laki-laki dan wanita yang sejatinya oleh syariat diatur agar terpisah semaksimal mungkin. Idealnya, kelas terpisah laki-laki dan wanita, kantor meminimalkan campur aduk dan interkasi wanita serta diberbagai tempat,kemudian para wanita yang lebih banyak dirumah serat jika keluar rumah menutup aurat dengan sempurna. Itulah idealnya, ini tidak aneh justru inilah idealnya dan sempurnanya pengaturan interaksi laki-laki dan wanita.
Inilah ajaran Islam yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram dan meminimalkan bercampur baur. Jangan katakan,
“ ini aneh! Bagaimana kok memisahkan antara laki-laki dan wanita, susah lho, bagaimana dong rumah sakit khusus laki-laki, kantor khusus wanita?, Kan ada yang dikerjakan oleh wanita dan ada yang oleh laki-laki, Biasa aja kok kelas dicampur laki-laki dan wanita ”.
Maka kita katakan ini, tidak aneh, semua bisa diatur dan kita katakan adalah meminimalkan, bukan memisahkan sama sekali. konsep dan manhaj ini inilah yang terjadi pada Zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Konsep pada zaman keamasan Islam yang membawa Islam menguasi sepertiga dunia hanya dalam waktu 30 tahun, meruntuhkan dua imperium besar Romawi dan Persia. konsep yang meminimalkan ikhtilath/campur baur laki-laki dan wanita. Ini buktinya:
Para Sahabat radhiallahu ‘anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam –dengan keimanan mereka juga-, harus bertanya dibelakang hijab.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)
Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?
Begitu juga para wanita di zaman Zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menutup aurat mereka secara sempurna, maka tatkala turun ayat hijab mereka berjibab sempurna seperti gagak hitam (bukan berati hijab harus hitam saja). sebagaimana yang diceritakan oleh Ummu Salamahradhiallahu ‘anha, beliau berkata,
لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية
Ketika turun firman Allah (yang artinya), “Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” [Al-Ahzab :59]wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka).”[1]
Begitu juga kisah Ali bin Abi Thalibradhiallahu ‘anhu yang cemburu kalau istirnya yang berbelanja di pasar, karena pasar adalah tempat campur baur dan sulit dipisahkan. Ali bin Abi Thalibradhiallahu ‘anhu pernah mengirimkan surat kepada salah satu kota, untuk berbicara kepada para penduduknya. Ia menulis,
“بلغني أن نساءكم يزاحمن العلوج –أي الرجال الكفار من العجم – في الأسواق ألا تغارون؟ إنه لا خير فيمن لا يغار
“Telah sampai kepadaku kabar bahwa perempuan-perempuan kalian berdesak-desakan di pasar dengan orang-orang kafir non-arab!! Tidakkah kalian cemburu?! Sungguh tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya rasa cemburu”.
Mereka yang berpikiran liberal dan terpengaruh pola kehidupan barat tidak terima dengan hal ini, bagaimana bisa dipisah semua sendi kehidupan antara laki-lai dan wanita, sungguh aneh kata mereka. Tetapi justru kaum muslimin yang mengatakan “tidak aneh” kalau mereka menganggap ajaran ini aneh dan asing karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan jauh hari sebelumnya bahwa ajaran islam akan dianggap asing.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda,
بدأ الإسلام غريبا وسيعودكما بدأ غريبا. فطوبىللغرباء
“Islam pada awalnya asing dan akan kembali asing kelak sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang (dianggap) asing” (HR. Muslim no.145)
Jika mereka katakan, lihat negara barat maju kok, laki-laki dan wanitanya dicampur. Maka kita katakan, kemajuaan orang kafir bukan semata-mata karena mereka hebat tetapi juga karena kelemahan kaum muslimin. Maka kita katakan juga, apakah Allah sang pencipta lebih mengetahui kebaikan mahluknya atau kalian?
Allah Ta’ala berfirman,
أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ
“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah (yang lebih mengetahui)?”(Al-Baqarah: 140).
Maka solusi terbaik adalah meminimalkan ikhtilat dan mencegahkhalwat laki-laki dan wanita. Lihat bagaiman akibatya merajalela perzinahan di dunia barat, zina dianggap biasa bahkan kebanggaan. Zina di jalan-jalan di tempat terbuka, punya anak sebelum menikah sudah biasa terjadi. Tidak heran suatu saat menjelang kiamta akan merajalela perzinahan “masuknya timba ke dalam sumur” di tempat-tempat umum dan jalan-jalan, sehingga orang yang paling baik di zaman itu adalah yang berkata, “coba kalian lakukan agak dipinggir sana”.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda,
إن من أشراط الساعة : أن يرفع العلم ويثبت الجهل ، ويشرب الخمر ، ويظهر الزنا
“Tanda-tanda datangnya kiamat diantaranya: Ilmu agama mulai hilang, dan kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamr, dan banyak orang yang berzina terang-terangan”[2]
Comments
Post a Comment