Cantik, Izinkan Aku Menunduk...

demi Allah,
apa harus ku kecam hawa nafsuku,
atas cinta.
ataukah mataku yang menggoda, ataukah hati ini
jika ku kecam hati ia berkata : gara-gara mata yang memandang!
dan jika kuhardik mata, ia berdalih : ini kesalahan hati!
mata dan hati telah dialiri darah,
maka wahai Rabbi, jadilah penolongku atas mata dan hati ini.

(kata-kata seorang penyair yang dikutip Syaikh 'Abdul 'Aziz Al Ghazuli dalam buku Ghadul Bashar)

di tengah kejujuran itu, biarlah kita merindu sosok-sosok yang pandangannya selalu tunduk, menyerusuk ke dalam bumi. walau ia menyimpan kekaguman pada kecantikan maha karya Allah, tetapi kemampuan membedakan mana yang halal mana yang haram baginya telah mengajarkan kalimat, "cantik, ijinkan aku menunduk."

mari kita dengarkan Ummu Salamah berkisah tentang santunnya 'Utsman bin Thalhah dalam perjalanan mereka ke Madinah. sungguh hanya Allah yang mengawasi mereka sepanjang 400 kilometer itu. padahal Ummu Salamah adalah salah satu wanita tercantik di Makkah, dan 'Utsman pun tergolong tampan.

dan inilah yang dituturkan oleh Ummu Salamah :

..... "Utsman bin Thalhah bertanya padaku, "hendak pergi kemana wahai putri Abu 'Umayyah?"

"aku hendak menemui suamiku di Madinah."

"tidak adakah seseorang yang menyertaimu?'

"tak seorangpun kecuali Allah dan anakku ini."

"demi Allah tidak selayaknya engkau dibiarkan seperti ini", katanya. lalu dia menuntun tali kendali unta dan membawaku berjalan dengan cepat. demi Allah, aku tidak pernah bepergian dengan  seorang laki-laki dari kalangan Arab yang lebih santun dari dirinya.

jika tiba disuatu tempat persinggahan, dia menderumkan unta, kemudian dia menjauh dan membelakangiku untuk turun. apabila aku sudah turun, dia menuntun untaku dan mengikatnya di sebuah pohon. kemudian ia menyingkir dan mencari pohon lain, berteduh di bawahnya sambil tidur terlentang. jika sudah dekat waktunya untuk melanjutkan perjalanan, dia mendekat ke arah untaku dan menuntunnya. sambil agak menjauh lagi dan membelakangiku dia berkata, "naiklah!."

jika aku sudah naik dan duduk dan mapan di dalam sekedup, dia mendekat lagi dan mengungkung tali kekang unta. begitulah yang senantiasa ia lakukan hingga ia mengantarku sampai ke Madinah. setelah melihat perkampungan bani 'Amr bin 'Auf di Quba', dia berkata : "suamimu ada di kampung itu. maka masuklah ke sana dengan barakah Allah."

**kisah tersebut ada di dalam salah satu buku best seller milik Ust. Salim A. Fillah yang berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan.





kisah yang begitu indah. coba bandingkan dengan kita saat ini. jangankan ingin berkelakuan sama seperti 'Utsman bin Thalhah yang begitu santun kepada -bahkan- salah satu wanita tercantik di Makkah. saat ini malah kita sulit sekali penjaga pandangan apalagi pegang tangan, boncengan, dan bla bla bla lainnya -yang saya malas sekali kalau harus menjelaskan-

jangan pernah remehkan pandangan mata, sebab dari pandangan mata segala hal bisa terjadi. itulah sebabnya Allah SWT mewanti-wanti kita -lelaki beriman dan perempuan beriman- untuk menahan pandangan.

tapi jangan pula menyalahkan lelaki yang tidak bisa menahan pandangan matanya, sebagai seorang wanita kita juga mempunyai andil untuk betanggung jawab atas kehormatan diri kita. kehormatan seorang muslimah bukan sekedar menjaga -maaf- keperawanan, tapi kehormatan seorang muslimah juga adalah bagaimana cara ia menjaga dirinya dari perbuatan dosa. ga usah dulu bicara tentang dosa-dosa besar lah, bicara saja soal menahan diri dari melihat lawan jenis yang bukan mahramnya, berpegangan tangan, meneriwa tawaran boncengan -walau dengan alasan ga sentuhan, dibatasi tas, dll-

kehormatan seorang muslimah ada pada seberapa pandai ia menjaga harga dirinya, menjaga dari lelaki yang usil jahil sekaliapun ia beriman. 

di antara organ-organ badan yang paling sedikit bersyukur adalah mata. karena itu janganlah kalian memenuhi tuntutannya karena ia akan melalaikanmu dari mengingat Allah.

pandangan pertama untukmu. pandangan kedua berdosa dan untukmu. sedangkan pandangan yang ketiga merupakan kehancuran.

Comments