Dunia maya baru berkembang pesat beberapa tahun ini seiring kemajuan komunikasi dan kemudahan akses internet. Melalui media sosial sekarang laki-laki dan wanita lebih mudah berinterkasi dan bergaul. Begitu banyak sarananya, facebook, twitter, e-mail, BBm dan SMS. Bahkan lebih dahsyat karena bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan merasa lebih “aman”. Saling curhat, pendekatan hubungan gelap, perselingkuhan bahkan dilengkapi dengan kirim-kiriman foto dan video.
Padahal Islam sudah mengajarkan bagaimana cara berinteraksi, ya benar sama dengan dunia nyata yaitu meminimalkan campur baur dan meminimalkan kontak dan hubungan laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa keperluan dan kepentingan.
Berikut beberapa solusi ringkasnya:
-hendaknya tidak menyimpan nomor Hape lawan jenis jika tidak ada kepentingan sama sekali, apalagi mencari diam-diam nomor hape wanita yang menjadi incarannya
-tidak perlu menjadi teman dalam akun. (beberapa ustadz berpendapat bahwa bagi wanita mutlak tidak boleh mempunyai teman akun laki-laki non-mahram karena mereka lebih lemah hatinya, sedangkan laki-laki jika yang mendapatkan beban dakwah, maka dia melihat mashalah lebih jika dia menerima pertamanan dengan wanita, maka mereka bisa mendapatkan manfaat dari dia melalui postingan dan tulisannya, kemudian dia juga bisa menjaga diri misalnya sudah mempunyai istri, maka laki-laki seperti ini tidak mengapa mempunyai teman akun wanita, wallahu a’lam.)
-tidak perlu memberi komentar kepada status atau twit lawan jenis non-mahram, seperti:
“Masya Allah, Ukhti tausyiahnya meneyntuh sekali, benar-benar lembut perkataannya”
“ya akhi, begitu indahnya nasehat ini, seandainya saya bisa mendapat nasehat seperti ini setiap hari”
-begitu juga dengan SMS dengan lawan jenis, apalgi pendekatan gelap berkedok agama:
“ukhti, nanti saya kasi majalah yang membahas tentang masalah ini”
“ukhti, jangan lupa shalat dhuha, nanti malam saya miscall buat shalat malam”
“ukhti, saya bisa bantu permasahan ukhti”
Atau yang lebih parah:
“saya bisa ajarkan ukhti bahasa arab langsung di masjid”
“kebetulan saya bisa komputer, nanti saya instalkan programnya ke rumah ukhti”
-jangan pula sering membahas dan membicattakan lawan jenis, misalnya:
“ si fulanah cantiknya 8 tapi si fulanah lebih cantik lagi nilainya 8,5”
“si fulanah asalnya daerah A, sama dengan daerah antum”
“ada akhwat ngetop, akhwat kedokteran lho, katanya jadi asisten anatomi, dah lama ngaji, katanya sih banyak yang ngincer, namanya sampai universitas di pulau A …”
Demikian juga akhwat jangan sampai jihab dan cadar hanya sekedar chasing penutup, tetapi dibalik hijab dan cadar mulutnya sibuk membicarakan laki-laki dan menggosip laki-laki dari A-Z. Ya memang benar kata orang “wanita bermulut dua”. Jika laki-lkai berkumpul hanya membicarakan kecantikan wanita dan nama serta asalnya akan tetapi jika wanita yang kurang beriman berkumpul maka ia bahas laki-laki tersebut A-Z dengan berbagai sumber gosip (bigos).
Sampai-sampai para ikhwan berkata,
“Para akhwat lebih mengenal teman kita daripada kita mengenal teman kita sendiri”
Inilah pengakuanpara istri-istri, danmaraji’ yang paling shahih menyatakan demikian yaitu hadist kisah Ammu Zar’ dan Abu Zar’,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا
“Dari ‘Aisyah berkata bahwa Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun kabar tentang suami mereka”.[8]
–begitu juga dengan CP kajian ikhwan-akhwat. Ikhwan CP kajian leluasa bertanya-tanya dengan akhwat CP kajian. Padahal ia bisa bertanya dengan orang lain. Sebaiknya CP kajian adalah ikhwan-akhwat yang sudah menikah. Atau jika tidak ada, sms melalui perantara mereka. Ingat saat kajian pandangan mungkin bisa dihijab, tetapi hati sulit dihijab dibalik Handphone atau facebook.
-hati-hati main contak melalui inbox facebook atau sms, terutama pada “ikhwan gadungan mendadak ustadz”. Misalnya rayuan:
“ukhti, anti sudah menikah belum? Atau sudah ada calon?”
“saya sedang merasa kesepian ukti, sepertinya hampa hidup ini, kayaknya ada yang kurang”
Atau yang parah, mengirim puisi atau kata-kata romantis,
“seandainya istri saya kelak semisal ukhti, pastilah terisi kehampaan hidup dengan mata air kebahagiaan”
“siapa yang tidak begetar hatinya, menerima sms dari ketikan tangan yang lemah-gemulai yaa ukhti”
Ketahuilah ya ikhwan, akhwat itu cepat GR “Gede Rasa”, merasa diperhatikan oleh orang lain. Apalagi yang memperhatikan lawan jenis. Wanita itu makluk yang sangat manja dan sangat butuh perhatian tetapi jual mahal.Memalingkan mukanya tetapi hakikatnya sangat ingin menoleh. Mereka cepat GR karena memang hati mereka lemah, semisal kaca sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan wanita dengan kaca. Beliau bersabda,
رْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ
“Lembutlah kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)”[9]
Demikianlah risalah yang ringkas ini.
wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam
@Lab Patologi Klinik RS Sardjito,7 Sya’ban 1434 H
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com
[1] HR Abu Daud no 4101; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
[2] HR. Bukhari no.80
[3] HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122
[4] HR. Ahmad no.26195, hasan lighairihi, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth
[5] HR. Abu Dawud no.2134, dihasankan oleh Syaikh Albani
[6] HR. Ahmad 1/18, Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430
[7]HR. Ahmad
[8]HR. Bukhari V/1988 no 4893 dan Muslim IV/1896 no 2448
[9]HR Al-Bukhari no 5856, Muslim no 2323, An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro no 10326 dan ini adalah lafal An-Nasa’i
Comments
Post a Comment