"Dalam suatu kondisi, urf (budaya) dapat menjadi hukum."
Dan salah satu budaya di Indonesia adalah "kepo is care".
"Mau kemana mas??? Lagi libur mas??? Lagi gak kerja mas???"
Inikan pertanyaan "template" banget yang mungkin temen-temen juga bakal temui di desa desa di Indonesia.
Berbeda dengan budaya di barat, "urusanmu urusanmu, urusanku urusanku, gak usah ikut campur kalau gak penting penting amat." Kalau ditanyain sebagaimana pertanyaan diatas, mungkin bakal dibales, "apa sih loe", "loe gue end", dsb.
Oleh karena itulah temen-temen sebagai aktivis dakwah kudu paham banget budaya apa yang menjadi kental banget di masyarakat itu, terutama di Indonesia.
Sebagai bangsa Indonesia yang "kepo is care". Maka skill "ngobrol" memang menjadi salah satu skill yang mesti dimiliki oleh para aktifis dakwah. Karena melalui ngobrol tersebut, budaya "kepo is care" tersebut bakal semakin kuat.
Disamping plus minus dari ngobrol yang temen-temen aktifis dakwah juga kudu pinter mengolahnya. Semisal dusta, ghihah, namimah, julid, lambe-lambean, yang mungkin kalau diteruskan bakal menjadi lambe turah movement. Gerakan lambe turah.
.
Tetapi selain yang disebutkan diatas, "it's no problem."
Karena pemahaman itulah, alhamdulillaah temen-temen para aktifis dakwah sukses banget kalau menggarap soal filantropi, atau apapun yang berkaitan dengan aktifitas sosial. Ada ACT, PKPU, IZI, dan lembaga lembaga apapun sejenis yang menjadi prestasi dibidangnya. Karena memang aktifitas itu perlu banget skill itu untuk ngobrol bersama masyarakat.
Termasuk juga pendidikan, semisal JSIT, alhamdulillaah juga menorehkan tinta emasnya dalam perolehan prestasi para siswanya.
Tetapi anehnya berbeda dengan bidang lainnya, semisal politik yang temen-temen juga tentu lebih paham bagaimana yang terjadi, dsb.
Mungkin salah satu problemnya karna jarang "ngobrol" aja, yang satu sama lain saling julidin yang lainnya, bahkan sampe jadi lambe turah movement tadi. Padahal memiliki visi yang sama.
Atau jangan-jangan hanya siasat bersiyasah saja. Padahal dibaliknya "berpisah untuk bertemu, bertemu untuk pertemuan yang abadi."
Tetapi yang menjadi garis kesimpulannya adalah, sebagai aktifis dakwah memang perlu memahami budaya (urf) yang berjalan di masyarakatnya, dan dalam konteks Indonesia, memang skill "ngobrol" diperlukan.
Comments
Post a Comment